#8. Apakah Bekerja Secara Terstruktur Bisa Membuat Saya Lebih Produktif ?


Bekerja Secara Terstruktur
Bekerja Secara Terstruktur
 

Setelah membaca buku Eat That Frog! dari Brian Tracy, saya mencoba membuat struktur kerja yang jelas saat memproduksi video untuk konten YouTube saya.

Mengapa saya membuat struktur kerja seperti itu? Karena jujur saja, proses pembuatan dua video yang hanya berdurasi 7 dan 10 menit ternyata sangat melelahkan. Saking lelahnya, saya sampai mempertanyakan kembali keputusan untuk terjun menjadi YouTuber. Bayangkan, untuk dua video itu saya harus bekerja berjam-jam, bahkan hingga larut malam. Kondisi ini membuat badan saya lelah, dan untungnya waktu itu saya sedang libur beberapa hari.

Pikiran kritis yang saya latih dalam beberapa waktu terakhir sepertinya mulai berguna. Jangan-jangan bukan keputusan menjadi YouTuber yang salah, melainkan sistem kerjanya yang berantakan. Untuk itu, saya mencoba menyusun urutan kerja yang semoga dapat membantu saya lebih produktif dan efisien.

Struktur kerja yang saya buat kira-kira seperti ini :

  1. Mencari ide dan informasi pendukung
  2. Membuat script atau naskah
  3. Membuat Voice Over (VO)
  4. Mengumpulkan dan membuat komponen visual
  5. Editing dan Evaluasi
  6. Publish

1. Mecari Ide dan Informasi Pendukung

Untuk proses awal ini, saya menggunakan bantuan ChatGPT untuk menghemat waktu. Adanya tool AI benar-benar membantu. Saya hanya tinggal meminta daftar tokoh sesuai keinginan dan alur cerita yang diinginkan, maka hasilnya muncul dalam hitungan detik. 

Begitu juga dengan informasi tambahan; saya tidak terlalu kesulitan karena semuanya sudah tersedia. Tinggal memilih mana yang akan digunakan.

2. Membuat naskah cerita (Script)

Untuk tahap ini, saya melakukan kombinasi antara AI dan manual, karena hasil dari AI terasa sangat kaku dan kentara seperti robot. Biasanya, untuk pondasi awal saya menggunakan AI, lalu saya perbaiki dan sesuaikan dengan gaya bahasa saya. Naskah ini juga harus disesuaikan dengan durasi video; semakin panjang durasinya, semakin panjang pula naskah yang harus dibuat.

3. Membuat Voice Over (VO)

Belajar dari pengalaman dua video sebelumnya, saya memutuskan untuk merekam voice over pada malam hari. Maklum, alat perekam yang saya gunakan seadanya dan jika dilakukan siang hari, ada banyak gangguan suara. Proses perekaman biasanya saya lakukan pada jam 9 malam dan harus selesai sebelum jam 11 malam. Karena saya hanya menargetkan tiga video dalam satu bulan, saya punya banyak waktu untuk mengerjakannya. Jika tidak selesai dalam satu malam, bisa dilanjutkan pada malam berikutnya.

Sebenarnya, jika ingin lebih cepat dan hasil audionya bersih, kita bisa menggunakan Audio AI dari ElevenLabs. Namun, saya masih belum bisa memberikan prompt yang pas agar intonasi narasinya terdengar natural. Berulang kali percobaan dilakukan hingga token habis, namun hasilnya tetap seperti robot. Akhirnya, saya menggunakan suara saya sendiri. Selain gratis, ini juga bisa menjadi latihan berbicara. Pokoknya, target saya adalah satu video dalam 10 hari.

4. Mengumpulkan komponen visual

Komponen visual yang saya maksud di sini adalah footage dan gambar sebagai pemanis serta pelengkap cerita. Dalam produksi dua video awal, saya mengumpulkan bahan-bahan tersebut saat sedang mengedit video. Hasilnya, semua terasa seperti kebut semalam karena saya asal mengunduh, padahal banyak yang akhirnya tidak terpakai. Untuk gambar, saya menggunakan bantuan AI seperti Gemini dan ChatGPT, sementara footage video saya dapatkan dari Pexels dan Pixabay.

5. Editing dan Evaluasi

Ini adalah bagian tersulit dari semua tahapan. Perangkat lunak yang saya gunakan adalah CapCut PC (versi gratis) karena keterbatasan dana. 

Memang di marketplace banyak yang menjual versi "gotong royong", tetapi dari pengalaman, saya sering terkena kick sebelum masa pakai habis. Jadi, saya pakai yang gratis saja dan memaksimalkan apa yang ada. 

Setelah video jadi, saya akan mengevaluasinya dengan menonton ulang tanpa jeda untuk mencari bagian yang belum pas.

CapCut PC
CapCut PC

6. Publish

Langkah terakhir adalah publish. Namun sebelumnya, saya harus membuat ide judul menggunakan ChatGPT atau Gemini. Tidak lupa juga membuat deskripsi video dan tag yang diperlukan. Selain itu, saya membuat thumbnail yang menarik, juga dengan bantuan AI. 

Mengapa pakai dua tool? Karena jika token ChatGPT habis, saya bisa meminta Gemini untuk mengerjakan tugas tersebut.

Pelaksanaan Rencana

Pada tanggal 1 Juni 2026, saya mulai mencoba menjalankan alur kerja ini. Karena tanggal merah, saya punya banyak waktu untuk mengerjakan setiap tahapan. Saya mulai pukul 10.00 pagi dan sebelum salat Dzuhur, saya sudah mendapatkan beberapa ide sehingga bisa langsung ke tahap pembuatan naskah. Setelah makan siang dan salat, saya sempat ketiduran sampai sore. Sorenya, saya tidak langsung bekerja, melainkan olahraga selama satu jam dan membersihkan halaman. Saya menyempatkan olahraga ringan di rumah agar kondisi fisik tetap prima. Seperti yang kita tahu, terlalu lama di depan komputer tanpa olahraga bisa membuat tubuh cepat sakit. Selain itu, ide kadang muncul saat sedang berolahraga.

Pada malam hari, seharusnya saya membuat voice over. Tapi karena naskah belum selesai, saya terpaksa mengerjakannya hingga jam 10 malam lebih sedikit.

Lanjut pada 2 Juni, saya masuk kerja sehingga hanya bisa melakukan produksi di malam hari. Targetnya selesai satu malam sebelum jam 11. Untuk membantu proses perekaman, saya menggunakan Audacity yang gratisan. Saya sempat mencoba Adobe Audition, namun karena masih awam, saya sering menemui kendala seperti hasil rekaman tiba-tiba hilang. Begitu pula dengan Audacity yang sering error. Akibatnya, pada malam Rabu tersebut tidak ada hasil yang maksimal.

Proyek video ketiga dilanjutkan pada malam Kamis, 3 Juni. Kali ini saya menggunakan Adobe Podcast. Aplikasi berbasis web ini hasilnya sangat bagus; suara jadi jernih tanpa noise. Namun, saat membaca naskah, kita harus sejelas mungkin, karena jika samar, aplikasi ini akan mengubahnya saat proses penyempurnaan. Hasilnya bisa diunduh dan fiturnya masih gratis. Syukurnya malam itu hasil audio sudah selesai, tinggal dipotong bagian yang belepotan.

Adobe Podcast
Adobe Podcast

Pada tanggal 4 Juni, saya putuskan untuk libur mengedit karena tubuh merasa sangat lelah. Pada 5 Juni (Sabtu), saya mulai pukul 10.00 pagi. Aktivitas dimulai dengan mengunduh footage dan menyiapkan gambar pendukung. Proses ini tidak terlalu lama karena VO sudah siap, tinggal disesuaikan dengan narasi. Selanjutnya masuk proses editing sekalian memperbaiki audio VO yang terlewat. Karena keahlian editing saya masih cetek, proses ini memakan waktu berjam-jam. Sampai jam 4 sore belum selesai, lalu saya berhenti untuk olahraga. Malamnya, proyek tidak berlanjut karena saya pergi keluar bersama istri.

Sialnya, di hari Minggu ada acara keluarga, sehingga proyek ini kembali terbengkalai. Akhirnya, pada malam Senin, 6 Juni sekitar pukul 23.30, video selesai diedit dan langsung di-publish. Mungkin karena terlalu lelah, pikiran saya hanya tertuju pada bagaimana agar pekerjaan ini segera selesai.

Tugas pertama di bulan Juni pun selesai, meskipun masih ada utang dua video untuk diselesaikan dalam 24 hari ke depan. Dengan memperhatikan waktu 10 hari untuk pengerjaan masing-masing video, efisiensi waktu yang saya dapat setelah bekerja menggunakan struktur ini bisa dibilang sukses. Satu video selesai dalam 6 hari, ada sisa 4 hari untuk istirahat sebelum mulai kembali pada tanggal 11 Juni. Namun, dari segi produktivitas, sepertinya belum maksimal karena dalam 10 hari yang selesai tetap satu video. Bukankah produktif berarti bisa menghasilkan lebih banyak dalam kurun waktu yang sama? Entahlah.

Kesimpulan

Setelah mencoba bekerja menggunakan struktur yang saya buat sendiri, saya simpulkan bahwa cara ini berhasil, meski belum 100%. Saya merasa belum cukup berkomitmen untuk menjalankannya secara disiplin. Jika mau, setidaknya pada tanggal 1 Juni saya bisa menyelesaikan sampai tahap voice over. Faktor utamanya adalah niat. 

Faktor eksternal seperti aplikasi yang bermasalah bisa diatasi jika saya mengetahui Adobe Podcast sejak awal. Ke depannya, saya akan terus menggunakan Adobe Podcast karena dua aplikasi sebelumnya sering bermasalah.

Salam.

Posting Komentar untuk "#8. Apakah Bekerja Secara Terstruktur Bisa Membuat Saya Lebih Produktif ?"