#5. Jual Hape, Perkara Pacar Kebelet Nikah, dan Rumah Seharga 100 Juta
Sekitar tiga minggu lalu, saya memposting Redmi Note 11 di forum jual beli Facebook. Alasannya sederhana: saya sudah punya gawai baru, VIVO V40 5G.
Redmi Note 11 itu sendiri masih sangat layak. Dengan RAM 4 GB, penyimpanan 128 GB, layar AMOLED, dan warna Pearl Blue, gawai ini masih sangat bisa diandalkan untuk kebutuhan harian. Kondisinya pun mulus, lengkap dengan tempered glass terpasang. Sebagai bonus, saya sertakan headset merek Acome yang masih tersegel, yang dulu saya beli seharga Rp30.000.
Saya mematok harga Rp1,5 juta, lengkap dengan kotak asli dan charger bawaan. Saya membuka ruang untuk negosiasi, namun dengan catatan: NEGO TIPIS.
Setelah beberapa hari, banyak penawaran masuk, namun harganya masih terlalu jauh dari ekspektasi saya. Saya tidak ingin terburu-buru menurunkan harga. Pengalaman mengajarkan, jika kita bersabar, tawaran yang lebih layak biasanya akan datang. Lagipula, saya tidak sedang dalam kondisi mendesak membutuhkan uang tunai.
Memasuki minggu ketiga, ada tawaran masuk sebesar Rp1,2 juta. Setelah berdiskusi dengan istri, kami sepakat untuk melepasnya di angka tersebut. Keesokan harinya, calon pembeli itu menghubungi kembali untuk memastikan kesepakatan. Saya menjawab “IYA” dan mengirimkan lokasi rumah.
Tak lama kemudian, dia tiba. Calon pembeli ini ternyata seorang mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi. Tubuhnya kurus khas mahasiswa—tingginya sekitar 165 cm, mengenakan hoodie putih, dan gaya rambut belah pinggir. Kulitnya putih bersih, dengan kemiripan sekitar 40% dari almarhum Vidi Aldiano.
Kami bersalaman. Saya sempat kaget karena dia mencium tangan saya. Apakah saya sudah terlihat setua itu? Ah, mungkin benar, karena beberapa bulan lagi usia saya genap 40 tahun. Jadi, wajar saja jika Ali—sebut saja namanya begitu—merasa perlu melakukan itu.
Saya mempersilakan Ali duduk di bangku taman depan, lalu izin masuk sebentar untuk membuat kopi sekaligus mengambil ponsel tersebut. Setelah berdiskusi singkat soal teknis gawai, kami sepakat dan bersalaman tanda jadi. Sembari menghitung uang, saya melihat istri mengintip dari balik pintu dengan tatapan waspada. Saya pun segera masuk untuk menyerahkan uang itu kepada istri. Begitu uang berpindah tangan, beliau kembali ke dunianya—di depan TV—dengan tenang.
Setelah itu, saya dan Ali mengobrol ngalor-ngidul selama kurang lebih 25 menit. Dari obrolan itulah lahir judul artikel ini: Jual Hape, Perkara Pacar Kebelet Nikah dan Rumah Seharga 100 Juta.
Antara Tugas Akhir dan Nikah Muda
Ali adalah anak sulung kelahiran 2002. Saat ini, dia sedang bergelut dengan skripsi di jurusan Ekonomi Syariah, dengan harapan bisa melamar kerja di bank setelah lulus nanti. Namun, dia sedang berada di persimpangan dilematis. Di satu sisi, dia harus menuntaskan kuliah akhir tahun ini, tapi di sisi lain, pacarnya sudah kebelet ingin menikah.Pikirannya campur aduk. Kebingungan itu terlihat jelas dari caranya menghisap rokok Sampoerna Mild-nya. Setiap tarikan napasnya terasa dalam, seolah ia sedang menyedot ketenangan untuk meredam beban pikirannya.
Ali bercerita bahwa pacarnya juga kelahiran 2002, namun sudah lulus setahun lalu. Sebagai anak sulung, tekanan untuk segera menikah memang sangat terasa. Meski rengekan sang pacar masih bisa diredam dengan alasan skripsi, Ali tetap merasa was-was. Dia takut pacarnya lelah menunggu dan akhirnya berpaling ke pria lain.
Saya sangat paham posisinya. Perempuan memang kerap mendapat tekanan sosial yang besar untuk menikah saat menginjak usia 25 tahun ke atas. Pertanyaan "kapan nikah" yang sering dianggap basa-basi oleh orang lain, bagi pelaku seperti Ali, bisa menjadi pemicu perdebatan hingga susah tidur di malam hari.
Ali melanjutkan, "Adik saya yang nomor dua, kelahiran 2006, tidak kuliah tapi sudah bekerja di luar negeri." Kondisi ekonomi keluarga memang memaksa mereka berjuang keras.
Ayah Ali tidak mampu membiayai kuliah keduanya, sementara adik paling kecil masih duduk di bangku SMP. Itulah alasan di balik pembelian ponsel ini: Ayah Ali butuh ponsel Android yang terjangkau untuk video call dengan adiknya di perantauan. Syaratnya sederhana: harganya tak lebih dari Rp1,2 juta dan harus ada kotaknya. Syukurlah, gawai saya memenuhi kriteria itu.
Rumah Seharga 100 Juta
Melihat tanaman buah di halaman saya, Ali iseng bertanya harga rumah saya. Saya jawab, "Sekian ratus juta."
Dia kemudian bertanya, "Kalau punya uang 100 juta, kira-kira bisa buat bangun rumah?"
Melihat keseriusannya, saya jelaskan bahwa harga material dan tanah saat ini sudah jauh melambung. Uang 100 juta tidak akan cukup jika harus membeli tanahnya juga. Namun, jika tanah sudah tersedia, uang 100 juta mungkin cukup untuk rumah dengan model sederhana—tanpa keramik dan menggunakan atap spandek.
Saya berkelakar, "Kecuali kamu punya kerabat yang bisa jadi tukang dan buruh yang mau dibayar dengan harga 'teman', persis seperti kamu membeli ponsel saya tadi."
Ali tersenyum tipis, meski tampak belum puas. Ketika saya tanya balik apakah dia sudah memiliki uang 100 juta tersebut, dia hanya menggeleng sembari tersenyum. Jawaban itu sudah cukup bagi saya.
Dua puluh lima menit berlalu, Ali berpamitan. Saya antar dia sampai gerbang. Dia pergi membawa ponsel baru, namun tetap harus bergulat dengan masalahnya sendiri.
Kesimpulan
Lelaki manapun jika menghadapi kondisi yang sama seperti Ali, pasti malamnya susah tidur. Karena yang namanya pujaan hati minta dilamar sementara kita sebagai lelaki belum siap, rasanya seperti sedang lari maraton namun garis finisnya terus bergerak menjauh.
Pertemuan singkat dengan Ali pagi ini mengingatkan saya bahwa di balik notifikasi jual-beli barang bekas, ada banyak drama kehidupan yang sedang diperjuangkan.
Saya melepas kepergian Ali dengan perasaan campur aduk. Ada rasa haru melihat semangatnya, sekaligus rasa bersyukur karena masa-masa 'kapan nikah' itu sudah saya lewati belasan tahun lalu.
Ali sedang berusaha melunasi skripsi, sekaligus menabung keberanian untuk masa depan.
Semoga saja, 1,2 juta rupiah yang ia keluarkan untuk hape itu menjadi perantara yang memperlancar komunikasinya dengan sang adik, dan kelak, langkahnya menuju jenjang pernikahan menjadi lebih ringan saat waktunya tiba.
Salam.



Posting Komentar untuk "#5. Jual Hape, Perkara Pacar Kebelet Nikah, dan Rumah Seharga 100 Juta"
Posting Komentar