#7. Mengolah Sampah Dapur Menjadi Nutrisi: Rahasia Mangga Agrimania Berbuah Lebat


Cara membuat kompos rumah dari sampah dapur
Cara membuat kompos rumah dari sampah dapur
 Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi Mangga Agrimania yang menjadi primadona di seantero tetangga, saya nyaris tidak mengeluarkan biaya sepeser pun. Saya hanya memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar rumah serta menggunakan peralatan sederhana pula. Salah satu caranya adalah dengan memproduksi sendiri pupuk kompos secara mandiri yang bahannya berasal dari sampah sisa dapur dan sampah organik yang dihasilkan oleh tanaman itu sendiri.

Selain menjaga kebersihan lingkungan rumah, metode ini menjadi langkah krusial untuk menjaga kesehatan tanah. Berbeda dengan pupuk kimia yang berisiko membuat tanah hanya menyimpan unsur hara tertentu yang mungkin tidak dibutuhkan, pupuk kompos memberikan nutrisi yang lebih seimbang dan alami. Dengan keunggulan tersebut, sejak lebih dari lima tahun lalu, kegiatan mengolah sisa bahan makanan dari dapur dan sampah organik lainnya menjadi rutinitas harian saya.

Awal Mula Inisiatif Kreatif

Ide awal untuk memulai aktivitas membuat kompos dari sampah dapur tidak terjadi begitu saja. Tidak pula karena saya mendapat petunjuk untuk tiba-tiba peduli terhadap lingkungan, melainkan karena kondisi yang memaksa saya harus kreatif. Ceritanya, setelah pindah ke rumah yang baru, kami kerap kali kebingungan dengan sampah dapur yang kita semua tahu cepat sekali membusuk sehingga menimbulkan aroma tidak sedap ke seantero rumah.

Kami pun berada dalam kondisi dilematis; jika ditaruh di depan rumah, kami khawatir tetangga yang lewat merasa keberatan karena bau sampah yang menyengat. Hal ini dikarenakan layanan pengangkutan sampah di tempat tinggal saya hanya diberi jatah satu kali dalam satu minggu, sebab armada pengangkut sampah pemerintah daerah tidak mampu mengangkut sampah seluruh warga setiap hari. Awalnya, saya hanya membiarkan sampah organik tadi di tong sampah sampai petugas kebersihan datang. Namun, terkadang petugas kebersihan datang saat kami tidak ada di rumah, sehingga sampah kami pun menumpuk dan menimbulkan masalah.

Gali Lubang Tutup Lubang

Saya tidak sedang membahas lagu yang berjudul "Gali Lubang Tutup Lubang", tapi saya ingin berbagi cerita bagaimana masalah sampah dapur ini akhirnya bisa kami manfaatkan. Karena waktu itu sampah kami sudah tidak terangkut lebih dari satu minggu, saya akhirnya membuat lubang dengan kedalaman sekitar 30 cm dan diameter 40 cm. Sampah yang sudah membusuk di dalam tong saya masukkan semuanya ke dalam lubang tersebut. Karena lubang pertama tidak cukup, saya membuat lubang lagi yang lebih dalam di dekatnya. Setelah semua sampah masuk, saya menimbunnya dengan tanah.

Sejak saat itu, saya tidak perlu lagi menunggu petugas kebersihan untuk datang ke rumah, sebab masalah sampah langsung terselesaikan di sumbernya. Kecuali untuk sampah plastik dan anorganik lain yang tetap saya simpan untuk dibuang pada tempatnya saat saya keluar rumah, volumenya pun relatif sangat sedikit.

Mengenal Sistem Dumping yang Efisien

Setelah beberapa minggu rutin menggali lubang, saya merasa cukup lelah. Selain itu, saya perhatikan sampah yang membusuk akan menyusut volumenya. Karena halaman rumah saya terbatas, saya mulai mengirit lahan. Saya membuat lubang yang lebih dalam namun dengan diameter tetap 40 cm.

Saya mulai menggunakan Sistem Dumping: saat sampah hari ini masuk, saya tidak langsung menimbunnya sampai lubang penuh. Sampah ditimbun sedikit demi sedikit lalu dipadatkan supaya aromanya tidak mencemari udara serta mencegah lalat datang. Besoknya, lakukan hal yang sama hingga lubang penuh. Dengan cara ini, saya tidak perlu membuat lubang setiap kali membuang sampah. Hemat tenaga dan hemat lahan. Tidak hanya sampah dapur, saya juga menimbun sampah daun dari tanaman buah yang kini tumbuh subur.

Normalisasi Kondisi Tanah

Awalnya, di halaman rumah saya hanya ada tanaman bunga kertas di pojok, selebihnya hanya paving block yang membuat suhu udara terasa panas terik. Saya tidak tahu mengapa pemilik rumah sebelumnya tidak menanam pohon peneduh. Maka, saat hari libur, saya berinisiatif mengangkat paving block satu per satu. Setelah lahan terbuka, saya tanami bibit lengkeng.

Namun, meski rajin disiram, bibit lengkeng saya kering kerontang dan mati. Tanah saat itu tidak ideal karena bertahun-tahun tertutup paving block, permukaannya sangat keras hingga cangkul mini saya rusak. Bahkan, rumput pun sulit merambat. Namun, setelah saya membuat banyak lubang kompos di area tersebut, secara ajaib mulai tumbuh berbagai bibit sayuran dari sampah dapur yang terbuang. Melihat ini, istri saya sumringah dan mulai mencoba hobi bertani sayur. Saya pun semangat membeli bibit lain seperti belimbing, jambu kristal, jeruk bali, rambutan, dan tentunya Mangga Agrimania. Belakangan, saya menambah koleksi mangga jenis Chokanan yang saya tempatkan di planter bag karena lahan halaman sudah penuh.

Peningkatan ke Skala yang Lebih Besar

Cara membuat kompos rumah dari sampah dapur
Cara membuat kompos rumah dari sampah dapur
Mengingat tanaman buah saya semakin besar, potensi sampah daun pun bertambah. Maka, saya membuat penyimpanan khusus sampah organik dengan menata bongkaran paving block membentuk persegi panjang (ukuran 200 cm x 100 cm dengan tinggi 50 cm). Bak ini saya tutup dengan sisa spandek bekas agar pembusukan optimal dan bau tidak keluar.

Eksperimen saya terus berkembang. Saya mengombinasikan sampah dengan abu hasil pembakaran dahan kering hasil pruning. Saya juga belajar membuat pupuk cair dari campuran air cucian beras yang difermentasi dengan bakteri EM4 untuk mempercepat penguraian dan meningkatkan kandungan mikroba baik dalam tanah.

Demikianlah pengalaman saya mengolah sampah secara mandiri. Semoga bermanfaat bagi Anda yang ingin memulai langkah kecil di rumah sendiri.

Salam.

Posting Komentar untuk "#7. Mengolah Sampah Dapur Menjadi Nutrisi: Rahasia Mangga Agrimania Berbuah Lebat"